Huruf hijaiyah adalah abjad Arab yang digunakan dalam penulisan AlQur’an dan Hadits. Penulisan Al-Qur’an sendiri telah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Penulisan Al-Qur’an dilakukan secara berhati-hati, sehingga sampai sekarang Al-Qur’an tetap berada pada orisinilitasnya.
Hal ini sesuai dengan penuturan Zaid bin Tsabit : “setelah saya menulis wahyu yang telah didiktekan Nabi Muhammad SAW kepada saya, segera beliau meminta untuk dibacakannya, lalu saya membacanya, kemudian beliau membagikan hasil catatan itu kepada orang banyak untuk disalin dan dihafal.17 Bentuk huruf hijaiyah telah mengalami banyak perubahan.
Pada zaman Rasul, bentuk huruf hijaiyah tanpa titik dan baris. Namun demikian hal ini tidak mempengaruhi pembacaa Al-Qur’an , karena para sahabat dan para tabiin adalah orang-orang yang fasih dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu mereka dapat membacanya dengan baik dan tepat.
Akan tetapi setelah ajaran agama Islam tersiar dan banyak bangsa yang bukan bangsa Arab memeluk agama Islam, sulitlah bagi mereka membaca Al-Qur’an tanpa titik dan baris itu Apabila keadaan demikian dibiarkan, dikhawatirkan bahwa hal ini akan menimbulkan kesalahan-kesalahan dalam pembacaan Al-Qur’an. 17 Prof. Dr. Umar Shihab, MA.,
Kontekstualitas Al-Qur’an, Jakarta, Penamadani, 2004, hlm. 180 17 18 Maka Abu Aswad Ad-Duwali mengambil inisiatif untuk memberi tandatanda dalam Al-Quran dengan tinta yang berlainan warnanya dengan tulisan AlQur’an. Tanda-tanda itu adalah titik diatas untuk fat-hah, titik di bawah untuk kasrah, titik di sebelah kiri atas untuk dhammah, dan dua titik untuk tanwin, hal ini terjadi pada masa Muawiyah.
Kemudian di masa khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M). Nashir bin Ashim dan Yahya bin Ya’mar menambahkan tanda-tanda untuk huruf-huruf yang bertitik dengan tinta yang sama dengan tulisan Al-Qur’an. Itu adalah untuk membedakan antara maksud dari titik Abul Aswad ad Duali dengan titik yang baru ini. Titik Abul Aswad adalah untuk tanda baca dan titik Nashir bin Ashim adalah titik huruf.
Cara penulisan seperti ini tetap berlaku pada masa bani Umayyah, dan pada permulaan Abbasiyah, bahkan tetap dipakai pula di Spanyol sampai pertengahan abad ke 4 H. Bahwa kemudian ternyata cara pemberian tanda seperti ini menimbulkan kesulitan bagi para pembaca AlQur’an, karena terlalu banyak titik, sedang titik itu lama-kelamaan hampir menjadi serupa warnanya.
Maka Al-Khalil mengambil inisiatif, untuk membuat tanda-tanda yang baru, yaitu huruf waw kecil ( ُ ) di atas untuk tanda dhammah, huruf alif kecil ( ا ( untuk tanda fatha, huruf yaa kecil (ى (untuk tanda kasrah, kepala huruf syin ( ّ ) untuk tanda syiddah, kepala ha ( ْ ) untuk sukun dan kepala ‘ain ( ء ( untuk hamzah. Kemudian tanda-tanda ini dipermudah, dipotong dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang ada sekarang ini. 19 Adapun Al-Qur’an yang telah dibukukan yang sampai pada kita sekarang ini khususnya yang ada di Indonesia ditulis berdasarkan bahasa Quraisy.
Menyambung Huruf Hijaiyah
Huruf hijaiyah dapat dituliskan secara terpisah ataupun bersambung. Menyambung huruf hijaiyah berarti merangkai abjad Arab sesuai dengan kaidah penulisan Al-Qur’an. Huruf-huruf hijaiyah akan sedikit berubah ketika pada posisi di awal, tengah atau akhir.
http://penerbitsahabat.com/latihan-menulis-huruf-hijaiyah-sambung/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar